Dalam postingan perdana ini saya ingin sedikit membagikan pengetahuan saya tentang nutrasetika kepada pembaca sekalian...semoga bermanfaat.
Banyak sekali definisi
atau terminologi tentang nutrasetika, namun jika disimpulkan nutrasetika dapat
disebut sebagai komponen medis dan nutrisional yang terdapat dalam makanan,
tumbuhan, atau bahan alami lainnya yang sudah dimurnikan[1]
dan digunakan untuk meningkatkan kesehatan baik dengan mencegah maupun
mengobati penyakit. Sebenarnya penggunaan nutrasetika sudah dilakukan dalam
kehidupan sehari-hari antara lain yaitu: (1) nutrisi dari buah-buahan yang
tidak sengaja ikut masuk dalam produk olahan buah tersebut misalnya reservatrol
suatu antioksidan yang diisolasi dari daun, kulit, dan bunga Vitis vinifera (anggur) terdapat pada
produk minuman anggur, (2) suplemen makanan misalnya glukosamin untuk menjaga
kesehatan sendi, (3) makanan/minuman yang diperkaya misalnya susu yang
diperkaya dengan L-carnitin untuk membantu membakar lemak menjadi energi, (4)
produk herbal seperti teh hijau yang mengandung senyawa polifenol yang mampu
mencegah kanker, dan (5) vitamin. Mungkin beberapa di antara kita sudah sering
menggunakannya.
Nutrasetika sangat
penting dalam terapi suatu penyakit menggunakan obat-obatan, namun bukan
menghilangkan obat-obatan yang direkomendasikan dalam suatu terapi, melainkan
membantu mengatasi masalah-masalah dalam terapi obat. Pada beberapa kasus,
terapi dengan obat-obat tertentu dapat menyebabkan kekurangan nutrisi tertentu
dalam tubuh, sehingga diperlukan nutrasetika untuk mengkompensasi kekurangan
nutrisi akibat terapi dengan obat sebagai contoh pemberian antibiotik golongan
penisilin mampu menyebabkan kekurangan vitamin B12 yang dapat meningkatkan
faktor resiko kanker kolon, penyakit jantung, disfungsi otak, dan neuropati
reversibel sehingga diperlukan pemberian vitamin B12 dari luar dengan dosis
koreksi sebesar 2 – 250 µg/hari sedangkan untuk penderita anemia 500 – 1000
µg/hari.
Selain untuk melengkapi
terapi obat, nutrasetika juga digunakan untuk menjaga kesehatan tubuh dari
berbagai penyakit degeneratif. Beberapa nutrasetika dapat digunakan untuk
menjaga kesehatan sendi, kardiovaskuler, mata, dan mencegah kanker serta untuk
mengatur berat badan tubuh.
Untuk menjaga kesehatan
persendian terutama dari penyakit radang sendi, glukosamin dan kondroitin
adalah nutrasetika yang sangat populer digunakan. Glukosamin sebenarnya
disintesis di dalam tubuh, namun seiring dengan bertambahnya usia, kemampuan
tubuh untuk memproduksi glukosamin menurun, oleh karena itu untuk menjaga
kesehatan persendian diperlukan asupan glukosamin dari luar. Sedangkan
kondroitin dapat diperoleh dari tulang rawan anak sapi.
Kesehatan
kardiovaskuler juga dapat dijaga dengan konsumsi nutrasetika yaitu koenzim Q10.
Nutrasetika ini dapat diperoleh dari ikan, unggas, dan sayuran (terutama
bayam). Koenzim Q10 dapat digunakan untuk terapi hipertensi. Telah
dilaporkan bahwa koenzim Q10 dengan kadar dalam darah di atas 2µg/ml
mampu menurunkan tekanan darah dari 159/94 menjadi 147/85.
Perawatan kesehatan
mata merupakan ranah nutrasetika. Beberapa orang pada usia lanjut mengalami
penurunan kemampuan penglihatan dengan cepat dan signifikan akibat penyakit
yang disebut Age Related Macular[2]
Degeneration (ARMD). Terjadinya ARMD
terkait dengan efek dari stress oksidatif. Kerusakan seluler pada retina diduga
kuat disebabkan oleh reactive oxygen intermediate.
Saat ini ARMD tidak dapat diobati, namun bisa dicegah dengan konsumsi
nutrasetika. Lutein dan zeaxantin merupakan nutrasetika untuk mencegah ARMD,
dan meningkatkan kesehatan penglihatan. Lutein dan zeaxantin ini merupakan karoteinoid
yang unik karena secara selektif terakumulasi di retina mamalia. Lutein dan
zeaxantin mampu meredam oksigen radikal yang mampu merusak DNA lebih baik
dibanding beta-karoten, mempunyai kemampuan untuk menyaring sinar biru[3] sehingga
mengurangi potensi foto-oksidasi. Lutein dan zeaxantin bisa diperoleh dari
sayuran hijau terutama bayam.
Nutrasetika juga
mempunyai kemampuan sebagai kemopreventif penyakit kanker, salah satunya adalah
likopen. Likopen yang terdapat dalam tomat telah dilaporkan mampu mengurangi
risiko kanker pada saluran penceranaan, paru-paru dan prostat. Mekanisme aksi
likopen dalam mencegah risiko kanker adalah melalui efek antioksidan yang
dimilikinya.
Dalam mengatasi masalah
kelebihan berat badan, nutrasetika juga memiliki peranan penting. Nutrasetika
mampu mengurangi kelebihan lemak dalam tubuh dengan cara meningkatkan
pembakaran lemak, misalnya L-karnitin dan asetil-L-karnitin suatu senyawa
endogen yang merupakan kofaktor dalam proses pembakaran lemak menjadi energi.
Peningkatan level L-karnitin dan asetil-L-karnitin dalam tubuh mampu memediasi
aktifitas enzim pemetabolisme lemak. Selain itu ada pula dehidroepiandrosteron
(DHEA) sebuah hormon yang secara alami terdapat dalam tubuh namun setelah usia
25 tahun menurun dengan cepat. DHEA dapat meningkatkan pembakaran lemak dan
menurunkan penumpukan lemak dalam tubuh. DHEA bekerja dengan mekanisme sebagai peroxisome proliferator-activated receptor α
(PPAR- α) agonist, yang telah
terbukti menurunkan tumpukan lemak dalam otot dan mengurangi obesitas, serta
meningkatkan konsentrasi insulin-like
growth factor (IGF-I) yang telah dikaji mampu mengurangi lemak perut.
Walaupun bahan alami,
namun bukan berarti tidak mempunyai efek yang tidak diinginkan. Nutrasetika
memang relatif aman jika digunakan pada level terapetik, namun pada penggunaan
jangka panjang menimbulkan efek yang tidak dikehendaki. Konsumsi karotenoid
lebih dari 30 mg per hari akan menimbulkan hiperkarotenamia. Contoh lain yaitu
efek serius dilaporkan pada kreatin yang meliputi penambahan berat badan 1 – 2
kg, kram otot, disfungsi ginjal, dan kemungkinan sitotoksik, sedangkan pada
pemakaian kreatin secara kronis akan menimbulkan produksi formaldehid dalam
tubuh. Nutrasetika lain yaitu DHEA dipostulatkan mempunyai efek samping
potensial berupa rambut rontok dan mens tidak teratur pada wanita, serta
meningkatkan risiko kanker prostat pada pria. Karena DHEA merupakan hormon,
dapat menimbulkan maskulinisasi pada wanita dan pembesaran payudara pada pria. Namun
data-data ini semua berdasarkan nutrasetika dalam bentuk tunggal (produk
nutrasetika).
Selain itu, perlu
diperhatikan penggunaan nutrasetika bersama dengan obat-obatan karena bisa
menimbulkan efek yang tidak diinginkan seperti menurunkan efek obat sehingga
terapi dengan obat tidak manjur atau sebaliknya meningkatkan efek obat sehingga
menimbulkan efek toksik. Sebenarnya efek nutrasetika dalam meningkatkan efek
obat tertentu bisa menguntungkan karena dengan demikian dosis obat bisa
dikurangi sehingga efek samping obat berkurang, namun kendalanya adalah belum
diketahui dengan pasti berapa dosis obat yang harus dikurangi jika menggunakan
obat bersama dengan suatu nutrasetika dengan takaran tertentu. Contoh interaksi
nutrasetika-obat yang meningkatkan aksi obat adalah obat-obat anti pembekuan
darah seperti warfarin berinteraksi dengan nutrasetika seperti ginko biloba,
gingseng, kondroitin, dan ekstrak biji anggur yang dapat meningkatkan efek anti
pembekuan darah yang berakibat darah akan sukar membeku jika terjadi luka.
Contoh interaksi nutrasetika-obat yang menurunkan aksi obat yaitu antidiabetika
oral berinteraksi dengan glukosamin yang dapat menurunkan efek hipoglikemik
antidiabetika oral akibatnya terapi diabetes melitus bisa mengalami kegagalan.
Oleh karena itu,
diperlukan kebijaksanaan dalam memilih produk-produk nutrasetika. Beberapa hal
yang harus dilakukan dalam pemilihan nutrasetika antara lain (1) sesuaikan
indikasi nutrasetika dengan kebutuhan atau penyakit yang diderita, (2) keamanan
nutrasetika ditinjau dari efek sampingnya dan adanya kontraindikasi dengan
kondisi tubuh, (3) kajilah dahulu data-data klinis post marketing dari produk tersebut, (4) konsultasikan dengan
ahlinya seperti dokter, apoteker, ahli gizi yang berkecimpung dalam dunia
nutrasetika.
Pembahasan tentang
nutrasetika memang tiada habisnya sama
seperti pembahasan tentang obat. Apa yang tertulis di sini memang tidak
lengkap, namun setikdaknya bisa memberikan gambaran tentang nutrasetika sebagai
terapi suportif untuk mengatasi sakit penyakit dan menjaga kesehatan manusia.
[1] Catatan
: Dimurnikan tidak harus selalu berarti menjadi senyawa tunggal, bisa jadi
masih berupa campuran, namun setidaknya masih lebih murni daripada keadaan
sebelumnya (bahan mentah)
[2] Catatan
: Macula
atau bintik kuning merupakan bintik kecil pada retina yang bertanggung jawab
dalam penyerapan cahaya yang memampukan seseorang untuk melihat.
[3] Catatan:
sinar UV disaring oleh kornea dan lensa mata sehingga tidak dapat sampai ke
retina, yang bisa masuk ke retina hanyalah sinar tampak (merah, jingga, kuning,
hijau, biru, nila, ungu) namun yang paling merusak adalah sinar biru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar